Tak Ada Kata Terlambat: Cerita Lansia yang Meraih Ijazah di Yayasan PKBM

Pendidikan sering kali dianggap sebagai fase kehidupan yang hanya dijalani oleh anak-anak dan remaja. Namun, persepsi ini dipatahkan oleh sebuah fenomena luar biasa yang terjadi di lingkungan Yayasan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Di sini, usia hanyalah sebuah deretan angka yang tidak mampu membendung semangat untuk belajar. Cerita tentang para lanjut usia (lansia) yang kembali mengenakan seragam atau sekadar membawa buku menuju ruang kelas adalah bukti nyata bahwa semangat literasi tidak mengenal batas waktu. Mereka datang dengan satu tekad yang bulat: mendapatkan ijazah yang selama ini tertunda karena berbagai rintangan hidup di masa lalu.

Keputusan untuk kembali belajar di usia senja bukanlah hal yang mudah bagi para Lansia tersebut. Banyak dari mereka yang harus melawan rasa malu dan stigma masyarakat yang menganggap bahwa belajar di usia tua adalah hal yang sia-sia. Namun, dorongan dari dalam diri serta dukungan penuh dari Yayasan PKBM membuat keraguan itu sirna. Sebagian besar dari mereka ingin membuktikan kepada anak cucu bahwa ilmu pengetahuan adalah harta yang paling berharga. Ada pula yang ingin meraih ijazah agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak atau sekadar memenuhi janji kepada orang tua mereka yang sudah tiada. Perjalanan mereka adalah sebuah inspirasi tentang keteguhan hati.

Di dalam kelas, suasana belajar bagi para Lansia ini tentu berbeda dengan kelas formal pada umumnya. Metode pengajaran di Yayasan PKBM disesuaikan agar lebih fleksibel dan mudah dipahami oleh mereka yang sudah lama tidak bersentuhan dengan dunia akademik. Guru-guru yang mengajar pun dibekali dengan kesabaran ekstra. Proses belajar mengajar sering kali diwarnai dengan diskusi mengenai pengalaman hidup yang dikaitkan dengan materi pelajaran. Hal ini membuat proses transfer ilmu menjadi lebih bermakna dan tidak membosankan. Bagi para peserta didik senior ini, setiap lembar modul pelajaran adalah jendela baru untuk memahami perubahan dunia yang makin cepat.

Momen kelulusan dan pengambilan ijazah menjadi puncak emosional bagi para Lansia ini. Mengenakan toga atau pakaian rapi saat menerima selembar kertas bertanda tangan resmi dari negara adalah pencapaian yang mengharukan. Tangis bahagia sering kali pecah saat mereka menyadari bahwa mimpi yang terkubur selama puluhan tahun akhirnya bisa terwujud melalui program-program di Yayasan PKBM. Ijazah tersebut bukan sekadar syarat administrasi, melainkan simbol kemenangan atas keterbatasan dan rasa tidak percaya diri. Hal ini membuktikan bahwa setiap individu, tanpa memandang usia, memiliki hak yang sama untuk berkembang dan meningkatkan kualitas hidupnya.