Fenomena “generasi sandwich“, di mana individu dewasa menanggung beban finansial untuk anak-anak mereka sendiri dan juga orang tua, telah menjadi tantangan nyata bagi banyak keluarga. Namun, Psikolog Mengungkap sebuah perspektif yang mungkin meringankan beban mental banyak orang: anak tak selalu wajib menanggung seluruh biaya hidup orang tua. Pemahaman ini sangat krusial untuk mencegah tekanan berlebihan dan menjaga kesehatan mental.
Psikolog Mengungkap bahwa seringkali, ekspektasi anak untuk membiayai orang tua berakar pada norma-norma budaya dan tradisi, bukan pada kewajiban psikologis yang melekat. Dr. Ratna Dewi, seorang psikolog keluarga senior dengan pengalaman 25 tahun, menjelaskan dalam sebuah simposium daring pada 17 Oktober 2024, bahwa jika ekspektasi ini terlalu berat dan tidak diimbangi dengan kapasitas anak, dapat muncul perasaan bersalah, stres kronis, dan bahkan resentment. “Tanggung jawab finansial seharusnya dibicarakan secara terbuka dan disesuaikan dengan kemampuan, bukan dipaksakan,” tegasnya.
Bagi individu yang berada di posisi “generasi sandwich“, beban ganda ini bisa sangat membebani. Mereka harus mengalokasikan dana untuk pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, cicilan, dan juga kebutuhan pokok serta medis orang tua. Psikolog Mengungkap bahwa akumulasi tekanan ini dapat menyebabkan burnout, masalah tidur, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Hal ini juga dapat mempengaruhi kualitas hubungan dengan pasangan dan anak-anak, karena energi dan waktu yang terkuras habis.
Alih-alih memikul beban sendirian, Dr. Ratna Dewi menganjurkan agar keluarga membangun sistem dukungan yang lebih luas. Ini bisa melibatkan komunikasi jujur mengenai kondisi finansial masing-masing, mencari bantuan dari anggota keluarga lain yang mampu berkontribusi, atau menelusuri program-program bantuan sosial dan kesehatan yang disediakan pemerintah untuk lansia. Fokus seharusnya adalah pada dukungan emosional dan praktis, bukan semata-mata finansial, untuk memastikan kesejahteraan orang tua tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan anak. Sebuah laporan dari Yayasan Peduli Keluarga pada November 2024 menyoroti bahwa banyak keluarga yang berdiskusi terbuka tentang keuangan mengalami tingkat stres yang lebih rendah.
Dengan perspektif yang Psikolog Mengungkap ini, anak-anak dapat merasa lebih bebas dari beban ekspektasi yang tidak realistis. Ini mendorong terciptanya hubungan keluarga yang lebih sehat, fleksibel, dan didasari oleh cinta serta pengertian, di mana dukungan bersifat timbal balik dan berkelanjutan.