Generasi Z, yang tumbuh di era digital yang serba terhubung, menghadapi tantangan finansial yang unik. Salah satu pemicu utama krisis finansial yang dialami banyak dari mereka adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yang secara perlahan namun pasti mengikis dompet mereka. Tekanan untuk terus mengikuti tren, pengalaman, dan gaya hidup yang terekspos di media sosial, seringkali mendorong pengeluaran impulsif dan tidak bijak, membawa mereka ke dalam krisis finansial pribadi.
FOMO adalah kecemasan yang muncul karena takut melewatkan pengalaman atau peluang menyenangkan yang dialami orang lain. Bagi Gen Z, media sosial menjadi etalase raksasa yang menampilkan kehidupan “sempurna” teman sebaya atau influencer. Dari festival musik yang ramai, perjalanan liburan yang eksotis, hingga gadget terbaru yang sedang viral, semua tayangan tersebut menciptakan tekanan sosial untuk ikut serta. Meskipun kondisi keuangan pribadi mungkin tidak memungkinkan, dorongan untuk tetap relevan dan tidak ketinggalan membuat Gen Z rentan terhadap pengeluaran impulsif. Misalnya, sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Keuangan Muda pada Januari 2025 menunjukkan bahwa 70% responden Gen Z di kota-kota besar pernah membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan hanya karena pengaruh media sosial atau teman.
Gaya hidup konsumtif yang dipicu FOMO ini memiliki dampak serius pada stabilitas finansial Gen Z. Mereka mungkin kesulitan menabung, terjebak dalam utang konsumtif, atau bahkan tidak memiliki dana darurat yang memadai. Contoh nyata dari pengikisan dompet ini adalah ketika seorang Gen Z menghabiskan sebagian besar gajinya untuk membeli tiket konser mahal, coffee shop kekinian setiap hari, atau pakaian branded hanya untuk mengikuti tren, padahal kebutuhan pokok belum terpenuhi atau tujuan finansial jangka panjang terabaikan. Ini berujung pada krisis finansial yang terjadi secara berulang setiap akhir bulan atau ketika ada kebutuhan mendesak yang tidak terduga.
Untuk mengatasi krisis finansial yang disebabkan oleh FOMO, Gen Z perlu mengembangkan literasi keuangan yang kuat dan kesadaran diri. Langkah pertama adalah belajar membuat anggaran dan menaatinya. Penting juga untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta memiliki keberanian untuk mengatakan “tidak” pada tekanan sosial. Mengurangi waktu di media sosial atau membatasi mengikuti akun yang memicu konsumerisme juga dapat membantu. Dengan disiplin dan perencanaan, Gen Z dapat mengambil kendali atas keuangan mereka dan keluar dari lingkaran FOMO yang menguras dompet.