Fenomena kekayaan yang terkonsentrasi pada generasi Baby Boomer (lahir 1946-1964) telah menjadi titik fokus perdebatan ekonomi global, sekaligus menyoroti tantangan finansial yang dihadapi generasi Milenial (lahir 1981-1996) dan Generasi Z (lahir 1997-2012). Disparitas ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari perbedaan fundamental dalam lingkungan ekonomi yang dialami oleh masing-masing kelompok demografi. Memahami fenomena kekayaan ini penting untuk merumuskan solusi atas ketimpangan ekonomi yang ada.
Generasi Baby Boomer mendapatkan keuntungan dari periode pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pasca-Perang Dunia II. Mereka memasuki pasar tenaga kerja saat peluang berlimpah, harga properti relatif terjangkau, dan pasar saham mengalami bull run yang panjang. Kebijakan pemerintah yang mendukung kepemilikan rumah dan investasi juga turut mempercepat akumulasi aset mereka. Banyak Baby Boomer yang mampu membeli rumah, melunasi hipotek, dan menabung dalam jumlah besar untuk pensiun, sehingga menjadi fenomena kekayaan yang dominan.
Sebaliknya, Milenial dan Gen Z menghadapi serangkaian krisis ekonomi sejak awal masa dewasa mereka. Krisis finansial global 2008, pandemi COVID-19, dan lonjakan inflasi telah membentuk lanskap ekonomi yang jauh lebih sulit. Mereka dihadapkan pada biaya pendidikan yang melonjak, utang pelajar yang besar, dan harga properti yang tidak terjangkau di banyak kota besar. Akibatnya, kemampuan mereka untuk menabung, berinvestasi, dan membangun ekuitas rumah sangat terhambat dibandingkan generasi sebelumnya. Sebuah laporan ekonomi dari lembaga riset pada akhir tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata Milenial memiliki aset bersih yang jauh lebih rendah dibandingkan Baby Boomer pada usia yang sama.
Fenomena kekayaan Baby Boomer ini juga menimbulkan pertanyaan tentang warisan ekonomi. Seiring waktu, akan terjadi transfer kekayaan besar-besaran dari Baby Boomer ke generasi berikutnya. Namun, pertanyaan muncul apakah transfer ini akan cukup merata untuk mengatasi kesenjangan yang ada, atau justru memperparah ketimpangan di antara Milenial dan Gen Z sendiri.
Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan pendekatan multifaset. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan yang mendukung akses perumahan terjangkau, pendidikan berkualitas tanpa beban utang berlebihan, dan penciptaan lapangan kerja yang stabil dengan upah layak. Selain itu, peningkatan literasi keuangan di kalangan Milenial dan Gen Z juga krusial agar mereka dapat membuat keputusan finansial yang cerdas dan memanfaatkan peluang di tengah dinamika ekonomi yang kompleks.