Fenomena Generasi Z yang seringkali digambarkan sebagai kelompok yang lebih “mudah tersentuh” atau sensitif dibanding generasi sebelumnya telah menjadi topik perbincangan hangat. Karakteristik ini sering dikaitkan dengan peningkatan kasus masalah kesehatan mental di kalangan mereka. Untuk memahami fenomena generasi ini, penting untuk menggali faktor-faktor yang mungkin berkontribusi pada kepekaan emosional dan kerentanan mereka terhadap tekanan.
Salah satu penyebab utama dari fenomena generasi Z yang mudah tersentuh adalah lingkungan digital yang imersif dan selalu aktif. Mereka tumbuh di era smartphone dan media sosial, di mana informasi mengalir tanpa henti dan perbandingan sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Paparan konstan terhadap gambar, video, dan cerita yang disempurnakan atau bahkan tidak realistis di media sosial dapat menciptakan tekanan untuk selalu tampil sempurna dan memicu rasa tidak aman. Rasa takut ketinggalan (FOMO) juga menjadi pemicu kecemasan yang umum. Profesor Sosiologi Digital dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Sari, dalam sebuah podcast pada 29 Juni 2025, menjelaskan bahwa “identitas Gen Z sangat terjalin dengan narasi online, membuat mereka lebih rentan terhadap validasi eksternal.”
Selain itu, tekanan akademis dan harapan masa depan yang tinggi juga memainkan peran signifikan. Gen Z menghadapi persaingan yang lebih ketat untuk masuk ke perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Ekspektasi untuk meraih prestasi yang luar biasa dari orang tua, guru, dan bahkan diri sendiri, dapat menciptakan beban mental yang berat. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim yang ekstrem, dan krisis sosial lainnya yang terus-menerus diberitakan juga menambah lapisan kecemasan, membuat mereka merasa kurang memiliki kendali atas dunia di sekitar mereka.
Faktor perubahan pola asuh juga sering dibahas. Ada argumen bahwa sebagian Gen Z tumbuh dengan pola asuh yang cenderung lebih melindungi, di mana orang tua berusaha keras untuk mencegah anak-anak mereka mengalami kesulitan atau kegagalan. Meskipun niatnya baik, hal ini terkadang dapat menghambat pengembangan mekanisme koping yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup secara mandiri. Ketika dihadapkan pada kritik atau kegagalan, mereka mungkin merasa lebih kewalahan karena kurangnya pengalaman dalam mengelola emosi negatif.
Meskipun fenomena generasi Z yang mudah tersentuh ini menjadi perhatian, penting untuk diingat bahwa hal ini juga mencerminkan peningkatan kesadaran dan keterbukaan terhadap isu kesehatan mental. Gen Z lebih berani berbicara tentang perasaan mereka, mencari bantuan, dan advokasi untuk lingkungan yang lebih suportif. Memahami penyebab di balik kepekaan ini adalah langkah pertama untuk memberikan dukungan yang tepat dan membantu mereka membangun ketahanan emosional.