Label “manusia tikus” yang disematkan pada Generasi Z seringkali memicu perdebatan, namun sebenarnya ini adalah cerminan dari pilihan hidup yang sadar dan strategis. Bagi mereka, hidup hemat dan pragmatis adalah bukan perlombaan kaya melainkan respons terhadap realitas ekonomi dan sosial yang kompleks. Mereka menolak definisi kesuksesan yang hanya diukur dari akumulasi materi, dan justru menemukan makna dalam pengalaman, keberlanjutan, serta kebebasan finansial yang dicapai melalui gaya hidup minimalis. Memahami ini penting untuk melihat bahwa ini bukan perlombaan kaya yang didikte oleh standar generasi sebelumnya.
Generasi Z, yang lahir setelah tahun 1996, tumbuh besar di era pasca krisis finansial global dan pandemi. Mereka menyaksikan bagaimana biaya hidup melambung tinggi, upah tidak sebanding, dan kepemilikan aset seperti rumah menjadi semakin sulit dijangkau. Realitas ini membentuk pola pikir mereka yang lebih realistis dan hati-hati dalam mengelola keuangan. Daripada terjebak dalam siklus konsumsi dan hutang untuk memenuhi ekspektasi sosial, banyak Gen Z memilih untuk memprioritaskan tabungan, investasi kecil, dan pengalaman yang berharga. Sebuah laporan dari Bank Negara Malaysia pada 18 Juni 2025 menunjukkan bahwa kepemilikan aset seperti kendaraan pribadi di kalangan Gen Z usia 20-27 tahun mengalami penurunan signifikan sebesar 12% dibandingkan dengan generasi Milenial pada usia yang sama.
Gaya hidup “tikus” ini bermanifestasi dalam berbagai cara. Mereka cenderung sangat cermat dalam pengeluaran harian, mencari promo, diskon, atau bahkan memanfaatkan barang bekas berkualitas tinggi. Konsep “membawa bekal dari rumah” atau “membuat kopi sendiri” menjadi kebiasaan, bukan karena tidak mampu, melainkan karena pilihan sadar untuk menghemat dan menghindari pemborosan. Mereka juga aktif mencari berbagai sumber penghasilan sampingan atau gig economy untuk menambah pemasukan tanpa terikat pekerjaan full-time tradisional yang mungkin tidak sesuai dengan nilai-nilai mereka. Ini menegaskan bahwa hidup mereka bukan perlombaan kaya dalam artian konvensional.
Selain faktor ekonomi, kesadaran lingkungan juga sangat memengaruhi pilihan gaya hidup ini. Gen Z adalah generasi yang paling vokal tentang perubahan iklim dan keberlanjutan. Hidup minimalis dan mengurangi konsumsi dianggap sebagai kontribusi langsung terhadap lingkungan yang lebih baik. Mereka cenderung menolak budaya “beli-buang” dan lebih memilih produk yang tahan lama atau dapat didaur ulang. Pada sebuah forum diskusi yang diadakan oleh komunitas lingkungan muda di Universiti Malaya pada 19 Juni 2025, mayoritas peserta Gen Z menyatakan bahwa gaya hidup hemat adalah bagian integral dari komitmen mereka terhadap planet ini.
Dengan demikian, ketika Gen Z memilih gaya hidup “tikus”, ini bukan perlombaan kaya dalam arti tradisional. Ini adalah adaptasi cerdas, pergeseran nilai, dan sebuah pernyataan bahwa kesuksesan bisa didefinisikan ulang—bukan hanya dengan seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa cerdas mereka hidup dan seberapa besar dampak positif yang mereka berikan.